Jadwal Berbeda Dengan Pemerintah: Mengapa WargaMU Punya Standar Ibadah yang Beda? Pendidikan Islam

Jadwal Berbeda Dengan Pemerintah: Mengapa WargaMU Punya Standar Ibadah yang Beda?

26 Februari 2026 Administrator 150 kali dibaca

Assalamualaikum WargaMU di Kota Malang!

Tiap kali hilal Ramadhan mendekat, satu pertanyaan yang hampir selalu mampir di telinga kita adalah: "Muhammadiyah puasa duluan lagi, ya?" Seolah-olah, kita punya jadwal khusus yang sengaja dibuat berbeda. 


Padahal, jika kita bedah sisi astronominya, ada alasan ilmiah dan syar'i yang sangat masuk akal di balik keputusan tersebut. Muhammadiyah tidak sedang berlomba lari untuk jadi yang tercepat, melainkan sedang konsisten menerapkan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Sesuai dengan Pedoman Hisab Muhammadiyah, kita meyakini bahwa selama posisi bulan sudah berada di atas ufuk (sudah wujud) saat matahari terbenam meskipun hanya 0,1 derajat maka secara sistematis esok hari sudah masuk bulan baru.


Namun, penting bagi WargaMU untuk meluruskan mitos bahwa kita "selalu" berbeda dengan pemerintah. Faktanya, perbedaan itu hanya terjadi jika posisi bulan berada di rentang yang sangat tipis, yaitu antara 0 hingga 3 derajat. Pemerintah RI saat ini menggunakan kriteria MABIMS yang mensyaratkan hilal harus setinggi minimal 3 derajat agar bisa dianggap masuk bulan baru. Jadi, jika bulan sudah muncul di ketinggian 2 derajat, Muhammadiyah akan memulai puasa karena bulan sudah "wujud", sementara pemerintah belum karena belum memenuhi standar "tampak" atau rukyat. Menariknya, jika posisi bulan berada di atas 3 derajat, jadwal kita pasti akan sama persis.


Data Sidang Isbat Kementerian Agama RI membuktikan bahwa dari tahun 2016 hingga 2021, kita menjalankan puasa di hari yang sama selama enam tahun berturut-turut. Ini adalah bukti autentik bahwa Muhammadiyah tidak "hobi" berbeda, melainkan hanya setia pada standar hitungan yang sudah ditetapkan.


Selain soal jadwal, kekhasan WargaMU juga terpancar dari presisi ibadah malamnya. Kita terbiasa dengan formasi Shalat Lail 11 rakaat yang dikerjakan dengan pola 4-4-3 (empat rakaat, empat rakaat, dan tiga rakaat witir). Praktik ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tapi merujuk langsung pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Bab Shalat Lail yang mengambil sandaran kuat dari Hadis Riwayat Bukhari nomor 1147. Dalam hadis tersebut, Ibunda Aisyah r.a. menjelaskan bahwa Rasulullah tidak pernah menambah rakaat shalat malam melebihi 11 rakaat, baik di dalam maupun di luar Ramadhan, dengan kualitas bacaan yang panjang dan tenang. Inilah mengapa masjid Muhammadiyah di Malang cenderung lebih mengutamakan kekhusyukan dibandingkan kecepatan gerak.


Terakhir, ketelitian WargaMU juga merambah hingga ke meja makan saat berbuka. Kita diajarkan untuk menyegerakan berbuka dengan doa yang paling kuat keshahihannya secara sanad. Berdasarkan Putusan Majelis Tarjih Muhammadiyah yang merujuk pada Hadis Riwayat Abu Dawud nomor 2357, doa yang dianjurkan adalah “Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insya Allah”.


Semangat kita dalam berpuasa pun tidak berhenti pada menahan lapar, tapi juga gerakan sosial. Melalui Teologi Al-Ma’un yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan, WargaMU didorong untuk menunaikan zakat dan infak lewat Lazismu lebih awal. Tujuannya sangat berkemajuan: agar dana tersebut bisa dikelola secara produktif dan sampai ke tangan mereka yang membutuhkan jauh sebelum gema takbir berkumandang, sehingga semua orang bisa merayakan kemenangan dengan layak.

Bagikan Artikel: