Alumni UMM Yang Jadi Ketum PP HIKMABUDHI

Alumni UMM Yang Jadi Ketum PP HIKMABUDHI

27 Juni 2026
Administrator
Organisasi 4 kali dibaca

Adalah Chandra Aditya Nugraha, alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2016, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (PP HIKMAHBUDHI) periode 2025–2028. Capaian ini menegaskan bahwa kampus berlatar belakang Islam mampu mencetak pemimpin nasional yang berdaya saing tinggi tanpa memandang latar belakang agama dan keyakinan.

Chandra sapaan akrabnya menjelaskan bahwa pencapaian puncaknya saat ini merupakan buah dari proses panjang yang ia rintis sejak pertama kali bergabung dengan HIKMAHBUDHI dan Asosiasi Kesejahteraan Sosial Jawa Timur pada tahun 2015.

“Organisasi itu prosesnya panjang. Saya memulai dari anggota, kemudian menjadi pengurus cabang, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua Cabang. Setelah lulus dari UMM pada tahun 2020, saya mengabdikan diri sebagai pengurus pusat di Jakarta sambil melanjutkan studi,” ungkapnya pada Sabtu (27/6).


Dalam perjalanannya menuju kursi kepemimpinan tertinggi pada pencalonan tahun 2024 lalu, ia dihadapkan pada dinamika yang menguji kedewasaan kepemimpinannya, terutama dalam mengelola konflik internal agar tidak memecah belah anggota.

“Saat proses pemilihan, itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Dari situ saya belajar memanajemen konflik agar organisasi tetap solid,” jelasnya.

Sebagai mahasiswa non-Muslim yang menempuh pendidikan di institusi Islam, ia menilai Kampus Putih UMM telah memberikannya ruang belajar nyata tentang esensi kebhinekaan yang memberikan hak setara bagi seluruh sivitas akademika.

“Saya bangga dengan UMM. Kampus ini menerapkan nilai keberagaman secara nyata. UMM tidak mengharuskan mahasiswanya beragama Islam atau berasal dari Muhammadiyah. Semua orang bisa belajar dan berkembang bersama,” tuturnya.

Bagi Chandra, UMM adalah miniatur Indonesia yang sukses mengimplementasikan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Di kampus ini, mahasiswa dari berbagai daerah, etnis, dan keyakinan dapat berbaur dan mendapatkan fasilitas serta hak pendidikan yang sama. Kebebasan dan toleransi inilah yang turut mendewasakan perspektif kepemimpinannya untuk berkiprah di tingkat nasional.

Terkait tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, Chandra menyadari bahwa rasa khawatir dan overthinking mengenai masa depan adalah fase wajar, namun ia mendorong mahasiswa untuk berani mengambil risiko demi memperjuangkan tujuan hidup.

“Hidup yang tidak pernah dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan. Jadi jangan takut tentang besok akan menjadi apa. Fokuslah pada apa yang teman-teman minati dan cintai hari ini. Dari situlah jalan akan terbuka,” tegasnya.

Kisah perjalanan Chandra menjadi bukti konkret bahwa lingkungan pendidikan yang menjunjung tinggi toleransi, dipadukan dengan keberanian untuk terus berproses, mampu mencetak pemimpin yang tangguh. Nilai-nilai inklusivitas yang dibawa dari Kampus Putih diharapkan tidak hanya memajukan organisasinya, tetapi juga menjadi pesan kuat bagi mahasiswa lain untuk tidak takut bermimpi besar, terus berkarya, dan berani mengambil langkah nyata bagi masa depan bangsa.(asa-umm)

Bagikan: