Krisis Karhutla & Kegagalan Komunikasi Krisis : Ketika Pemerintah Justru Sibuk Membela Diri
Ketika masyarakat sedang menghirup asap
kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pemerintah seharusnya berbicara tentang
keselamatan, perlindungan kesehatan, dan tanggung jawab. Bukan justru
mengingatkan bahwa hutan Indonesia juga menghasilkan oksigen bagi negara-negara
tetangga. Pernyataan Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda
Nainggolan, yang menyebut Indonesia tidak hanya mengirimkan asap, tetapi juga
oksigen, memperlihatkan persoalan serius dalam komunikasi krisis pemerintah. Kontroversi
ini muncul ketika kabut asap telah mengganggu aktivitas masyarakat, bahkan
menyebabkan penutupan sekolah di sejumlah wilayah Malaysia. Dalam situasi
demikian, masyarakat membutuhkan informasi yang menenangkan, dapat dipercaya,
dan memberikan kepastian mengenai tindakan pemerintah.Jadi, persoalannya bukan
apakah hutan Indonesia menghasilkan oksigen, melainkan mengapa argumentasi
tersebut disampaikan ketika masyarakat sedang mempertanyakan dampak asap
terhadap kesehatan dan kehidupan mereka.
Lima Kegagalan Komunikasi
Krisis Pemerintah
Dari perspektif manajemen
isu dan krisis komunikasi, saya mengidentifikasi setidaknya lima kegagalan dalam
pendekatan komunikasi krisis yang tercermin dari pernyataan Kepala Badan
Komunikasi Pemerintah RI yaitu:
Pertama, kegagalan
membangun empati. Ketika masyarakat
menghadapi ancaman kesehatan akibat kabut asap, pemerintah justru menyampaikan
argumentasi tentang kontribusi oksigen dari hutan Indonesia. Dalam komunikasi
krisis, empati bukan sekadar ungkapan keprihatinan, melainkan kemampuan untuk menempatkan
penderitaan masyarakat sebagai perhatian utama.
Kedua, kegagalan menentukan
prioritas pesan. Masyarakat membutuhkan
informasi tentang risiko kesehatan, perkembangan pemadaman, serta langkah-langkah
perlindungan. Pernyataan tentang oksigen justru mengalihkan perhatian dari
kebutuhan tersebut. Pemerintah terlihat lebih sibuk menjawab kritik daripada
menjawab kebutuhan masyarakat.
Ketiga, kegagalan dalam menjaga
akurasi dan kehati-hatian informasi. Menyatakan karhutla sebagai fenomena alam di luar
kesalahan manusia tanpa memperlihatkan dasar investigasi merupakan bentuk
komunikasi risiko yang tidak memadai. Pemerintah semestinya membedakan faktor
alam yang memperbesar risiko kebakaran dengan penyebab kebakaran yang telah
dibuktikan.
Keempat, kegagalan
menyelaraskan pesan pemerintah. KBRI Kuala Lumpur telah menunjukkan komunikasi yang lebih empatik
dengan menjelaskan upaya pemadaman serta kerja sama lintas negara. Namun,
pernyataan Kepala Bakom justru menonjolkan argumentasi pembelaan. Perbedaan
penekanan ini menunjukkan perlunya keselarasan pesan antarlembaga pemerintah.
Kelima, kegagalan
mengantisipasi konsekuensi komunikasi. Pernyataan tentang oksigen tidak meredakan
kontroversi, tetapi justru mengundang kritik dari Malaysia. Ini memperlihatkan
bahwa komunikasi yang tidak sensitif terhadap konteks dapat menciptakan
persoalan reputasi baru di tengah krisis yang belum terselesaikan.
Ketika Komunikasi
Krisis Berubah Menjadi Pembelaan
Dalam komunikasi risiko dan bencana, terdapat
perbedaan mendasar antara komunikasi untuk melindungi masyarakat dan komunikasi
untuk mempertahankan reputasi pemerintah. Kerangka Crisis and Emergency Risk
Communication (CERC) menekankan bahwa komunikasi dalam situasi darurat
harus mengutamakan kecepatan, akurasi, kredibilitas, empati, tindakan
perlindungan, serta penghormatan terhadap masyarakat yang terdampak. Artinya,
ketika krisis terjadi, pertanyaan pertama yang harus dijawab pemerintah
bukanlah bagaimana membuktikan bahwa pemerintah tidak bersalah, melainkan
bagaimana masyarakat dapat terlindungi.
Menurut saya, pernyataan mengenai kontribusi
oksigen hutan Indonesia menunjukkan kecenderungan framing defensif,
yaitu ketika komunikasi lebih diarahkan untuk membangun pembelaan daripada memenuhi
kebutuhan audiens. Pendekatan ini berisiko menimbulkan kesan bahwa pemerintah
lebih mengutamakan pembenaran daripada penderitaan masyarakat. Kita perlu
memahami bahwa komunikasi krisis bukanlah perdebatan untuk menentukan siapa
yang paling benar. Komunikasi krisis merupakan bagian dari tanggung jawab
pemerintah untuk melindungi keselamatan publik. Sehingga, ketika masyarakat
membutuhkan solusi, argumentasi yang terdengar seperti pembelaan justru dapat
memperbesar krisis kepercayaan.
Pernyataan yang mengaitkan karhutla dengan
fenomena alam juga perlu dikritisi. Memang benar bahwa musim kemarau,
kekeringan, dan kondisi cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Namun, menyatakan kebakaran sebagai peristiwa di luar kesalahan manusia tanpa
menjelaskan dasar investigasinya berpotensi mengaburkan persoalan tanggung
jawab. Karhutla merupakan persoalan kompleks yang dapat melibatkan kondisi
lingkungan, aktivitas manusia, tata kelola lahan, serta efektivitas pengawasan.
Karena itu, pemerintah perlu membedakan antara faktor yang meningkatkan risiko
kebakaran dan penyebab kebakaran yang telah dibuktikan melalui pemeriksaan.
Dalam perspektif komunikasi risiko,
ketidakpastian tidak seharusnya ditutupi dengan pernyataan yang terlalu meyakinkan.
Pemerintah justru akan lebih kredibel apabila berani mengatakan bahwa penyebab
kebakaran di lokasi tertentu masih diselidiki, sambil menjelaskan tindakan
pencegahan dan penanganan yang sedang dilakukan. Menurut saya, mengakui
keterbatasan informasi bukanlah tanda kelemahan pemerintah. Sebaliknya, itulah
salah satu fondasi komunikasi publik yang jujur dan bertanggung jawab.
Tentu saja, kritik ini tidak berarti
mengabaikan upaya pemerintah dalam menangani karhutla. Saya memahami bahwa pemerintah
Indonesia telah melaporkan pengerahan puluhan ribu personel serta puluhan
pesawat dan helikopter untuk mendukung operasi penanganan kebakaran.
Kementerian Luar Negeri juga telah melakukan komunikasi diplomatik dengan
Malaysia. KBRI Kuala Lumpur bahkan menyampaikan empati kepada masyarakat
Malaysia sekaligus menjelaskan berbagai langkah penanganan yang telah dilakukan
oleh Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat upaya operasional dan
komunikasi pemerintah yang perlu diapresiasi. Namun, justru di sinilah
persoalannya. Ketika satu lembaga pemerintah mengedepankan empati dan
penjelasan atas tindakan, sementara pejabat komunikasi pemerintah lainnya
menyampaikan argumentasi yang dapat dipersepsikan sebagai pembelaan, publik
menerima pesan yang tidak selaras.
Dalam Government Public Relations,
konsistensi pesan merupakan unsur penting kredibilitas institusi. Badan
komunikasi pemerintah seharusnya memastikan bahwa seluruh komunikasi pemerintah
memiliki orientasi yang sama, yaitu mengakui masalah, melindungi masyarakat,
menjelaskan tindakan, dan menunjukkan tanggung jawab. Jangan sampai kerja keras
ribuan petugas di lapangan kehilangan apresiasi publik karena pernyataan
pejabat yang tidak sensitif terhadap konteks krisis.
Lima Hal yang
Seharusnya Dilakukan Pemerintah dalam Komunikasi Krisis Karhutla
Pertama, mulailah dengan empati, bukan dengan
pembelaan. Akui dampak karhutla terhadap masyarakat Indonesia dan negara-negara
tetangga. Sampaikan kepedulian tanpa mengalihkan pembicaraan ke kontribusi atau
prestasi pemerintah.
Kedua, berikan informasi yang benar-benar
dibutuhkan masyarakat. Jelaskan perkembangan kualitas udara, wilayah yang berisiko,
tindakan perlindungan kesehatan, serta akses layanan bagi kelompok rentan,
terutama anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
Ketiga, komunikasikan tindakan secara
transparan. Pemerintah perlu menyampaikan apa yang telah dilakukan, hasil
yang dicapai, kendala yang masih dihadapi, serta langkah berikutnya. Jangan
hanya mengumumkan jumlah personel atau peralatan tanpa menjelaskan
efektivitasnya.
Keempat, bangun keselarasan komunikasi
antarlembaga. Bakom, kementerian teknis, BNPB, pemerintah daerah, dan
perwakilan diplomatik harus menyampaikan informasi yang konsisten. Koordinasi
komunikasi penting agar masyarakat tidak menerima pesan yang saling melemahkan.
Kelima, dengarkan masyarakat dan bersedia
melakukan koreksi. Keluhan warga, pengalaman tenaga kesehatan, serta
kebutuhan relawan di lapangan harus menjadi masukan bagi pemerintah. Jika
sebuah pernyataan menimbulkan persepsi ketidakpekaan, klarifikasi yang empatik
lebih diperlukan daripada mempertahankan argumentasi yang kontroversial.
Pemerintah Tidak Harus
Selalu Benar, tetapi Harus Bertanggung Jawab
Dalam situasi krisis, masyarakat tidak
menuntut pemerintah memiliki jawaban yang sempurna atas semua persoalan. Namun,
masyarakat berhak memperoleh informasi yang jujur, perlindungan yang memadai, serta
penjelasan mengenai tanggung jawab pemerintah. Komunikasi yang baik tidak
berarti pemerintah harus selalu meminta maaf atau menerima setiap tuduhan.
Pemerintah tetap berhak menjelaskan fakta, meluruskan informasi yang keliru, serta
menyampaikan upaya yang telah dilakukan. Namun, penjelasan tersebut harus
disampaikan dengan empati, disertai bukti, serta kepekaan terhadap situasi
masyarakat.
Sebagai akademisi komunikasi, saya
berpandangan bahwa persoalan ini perlu dievaluasi secara serius oleh Bakom RI.
Lembaga komunikasi pemerintah seharusnya berfungsi sebagai penghubung antara
kebijakan dan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar pelindung reputasi
pemerintah. Dalam komunikasi krisis, kredibilitas tidak dibangun dengan
memenangkan perdebatan, melainkan dengan menunjukkan kepedulian, kompetensi,
transparansi, dan tanggung jawab.
“Ketika masyarakat
sedang menghadapi krisis, pemerintah tidak boleh lebih sibuk membela
reputasinya daripada menjelaskan bagaimana keselamatan rakyat dilindungi.
Komunikasi krisis yang kehilangan empati justru berisiko menciptakan krisis
kepercayaan baru.”
(Assoc. Prof. Maulina Pia Wulandari, Ph.D.-Dosen Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi, UB-Pakar Public Relations, Komunikasi Publik, dan Manajemen Isu dan Krisis)