Menteri Mu’ti : Sekolah Muhammadiyah Harus Megah, Jangan Megahi

Menteri Mu’ti : Sekolah Muhammadiyah Harus Megah, Jangan Megahi

19 September 2026
Administrator
Pendidikan 7 kali dibaca

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang melalui Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Non Formal menyelenggaran dialog pendidikan dengan tema memajukan pendidikan Muhammadiyah dalam konteks pendidikan nasional.

Acara tersebut digelar pada Sabtu (19/9) di Masjid Manarul Islam Sawojajar Kota Malang dan dihadiri oleh Menteri Pendidikan Dasar Menengah Republik Indonesia Bapak Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed. gelaran ini diikuti 750 peserta yang terdiri 600 guru SD/MI, SMP/MTs dan SMA/SMK/MA, dan 150 dari Ikatan Guru TK ABA (Igaba).

Dalam sambutannya, Ketua PDM Kota Malang Prof. Dr. Abdul Haris, M.A menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja di desain terbatas untuk guru, pertama agar memahami kebijakan yang telah ditetapkan dan dicanangkan oleh Kemendikdasmen.

Dari acara ini, kata dia diharapkan akan menjadi motivasi bagi guru sekolah Muhammadiyah agar tetap semangat mengawal pendidikan, agar kontribusi persyarikatan nyata dalam memajukan peradaban bangsa.

“Sekolah Muhammadiyah harus senantiasa berupaya memajukan pendidikan, tidak hanya fokus pada pembangunan gedung, namun juga memikirkan kualitas pendidikan yang terbaik demi kemaslahatan umat,” imbuh Haris.

Sementara itu, mentee Abdul Mu’ti mengatakan, terkait dengan keteladanan terhadap pendiri persyarikatan, guru harus memahami identitas Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan semangat berkemajuan/ tajdid.

Abdul Mu'ti menceritakan bahwa pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan pada masa itu melakukan pembaharuan kurikuler, dengan penghapusan dikotomi ilmu. Sekolah Muhammadiyah mengajarkan ilmu agama dan umum secara proporsional.

“Madrasah menjadi tajdid Muhammadiyah yang menggabungkan sistem pendidikan sekolah dan pesantren. Dalam hal penyelenggaraan pendidikan, tiga poin penting yang harus diperhatikan yaitu, sekolah Muhammadiyah tidak boleh menjadi sekolah biasa, harus menjadi pionir dalam penyelenggaraan pendidikan. Ahmad Dahlan satu abad yang lalu telah mencontohkan kontribusi Muhammadiyah yang out of the box dari tradisi yang ada,” jelasnya.

Yang kedua, lanjut Mendikdasmen, sekolah Muhammadiyah harus menjadi model bagi sekolah di Indonesia. Sekolah harus menjadi megah, jangan 'megahi' atau tidak menarik. Praktik baik yang ada di sekolah, perlu diimbaskan ke sekolah lain.

“Yang ketiga, sekolah Muhammadiyah perlu mematuhi peraturan negara selama tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Kebijakan kemendikdasmen, seperti 7 kebiasaan hebat anak Indonesia, pembacaan ikrar pelajar saat upacara perlu dilaksanakan tanpa ada perdebatan,” pungkas Menteri Mu’ti.(saf)

Bagikan: