Resmikan UMM Migrant Center, Wamen P2MI : Ini yang Terlengkap di Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meluncurkan Migrant Center pada Selasa (7/7) yang dinobatkan sebagai pusat pelatihan pekerja migran paling lengkap, besar, dan komprehensif di Indonesia oleh Wakil Menteri (Wamen) Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.Ikom. fasilitas Kampus Putih ini diproyeksikan menjadi pilot project dan pilar utama program direktif Presiden dalam penyiapan tenaga kerja luar negeri yang kompeten dan prosedural.
Dalam kunjungannya, Dzulfikar menegaskan bahwa dari 24 migrant center yang ada di Indonesia, infrastruktur milik UMM merupakan yang paling siap dengan kurikulum next level. Pihaknya sangat mengapresiasi kelengkapan fasilitas, termasuk ketersediaan kelas bahasa Jepang spesifik hingga level N3 dan N4. Fasilitas ini dinilai krusial untuk membantu kementerian mengejar target peningkatan keterampilan bagi 40.000 pekerja migran pada tahun ini, dan 500.000 orang secara bertahap hingga 2029.
"Dari berbagai migrant center yang kami datangi, UMM Migrant Center jadi salah satu dari PTS paling lengkap, besar, dan komprehensif. Saya beserta tim sangat merasa terbantu dengan hadirnya UMM Migrant Center ini," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti keunggulan utama UMM dibandingkan pusat pelatihan lain, yakni keberhasilan menjalin jejaring korespondensi langsung ke Jepang yang sudah terbukti berjalan, bukan sekadar rintisan. Oleh karena itu, sistem komprehensif yang telah terbangun di UMM akan diduplikasi oleh kementerian untuk diterapkan pada pusat-pusat pelatihan lainnya di seluruh daerah.
"Kita berharap UMM menjadi penopang utama dari kesuksesan program direktif dari Bapak Presiden. Ini yang sudah existing dan sisa kita upgrade lagi supaya sampai ke visa engineer," tambahnya.
Pengarusutamaan migrasi yang aman dan tersistem ini juga menjadi strategi pemerintah untuk menghapus citra negatif pekerja migran Indonesia, yang selama ini kerap ditimbulkan oleh pekerja ilegal. Dzulfikar meyakinkan bahwa pekerja yang prosedural dan memiliki orientasi pra-pemberangkatan yang matang justru selalu mendapatkan apresiasi tinggi dari negara pengguna.
Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., memaparkan bahwa pendirian Migrant Center merupakan respons visioner kampus terhadap dinamika perubahan global. Pusat kajian transdisiplin ini dirancang untuk menghadapi era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) dan BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible), yang mensyaratkan perpaduan ketat antara keilmuan akademis dan praktik.
"Hal ini memerlukan upaya-upaya pengembangan diri melalui tempaan pengalaman langsung di lapangan, pendidikan karakter, pembentukan disiplin, manajemen waktu, dan penguatan ketangguhan mental," jelasnya.
Kehadiran Migrant Center ini menjadi wujud nyata komitmen kampus putih dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Prestasi sejati bagi institusi pendidikan pada akhirnya bukanlah sekadar deretan trofi, melainkan kemampuan alumninya untuk memenangkan ujian kehidupan. Melalui fasilitas ini diharapkan mampu memberikan kontribusi sebesar-besarnya bagi kemajuan bangsa, bekerja secara profesional di kancah global, serta mengharumkan nama baik Indonesia. (asa-umm)