Sukacita hari kemenangan Idulfitri 1447 H kini mengiringi langkah kita dalam memasuki lembaran baru di bulan Syawal. Namun, bagi seorang mukmin, berakhirnya Ramadan bukanlah akhir dari musim ibadah, melainkan awal dari pembuktian kualitas ketakwaan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk menyempurnakan ibadah Ramadan adalah menjalankan Puasa Sunnah 6 Hari di bulan Syawal.
Melansir dari laman resmi Muhammadiyah.or.id, Puasa Syawal adalah bentuk syukur sekaligus "penyempurna" dari puasa wajib Ramadan. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bagi siapa saja yang mengiringi Ramadan dengan puasa enam hari ini.
1. Keutamaan: Pahala Puasa Setahun Penuh
Mengapa Puasa Syawal begitu istimewa? Hal ini berdasar pada hadis sahih riwayat Imam Muslim:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seolah-olah berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim)
Logikanya, dalam Islam setiap kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Puasa Ramadan (30 hari) ditambah Puasa Syawal (6 hari) totalnya menjadi 36 hari. Jika dikali sepuluh, maka hasilnya adalah 360 hari—kurang lebih setahun penuh dalam kalender hijriah.
2. Kapan Waktu Pelaksanaannya?
Menurut Majelis Tarjih Muhammadiyah, Puasa Syawal dapat dimulai sejak tanggal 2 Syawal. Sangat diharamkan untuk berpuasa tepat pada tanggal 1 Syawal karena itu adalah hari raya.
Pelaksanaannya pun fleksibel:
Berurutan: Dilakukan langsung sejak tanggal 2 hingga 7 Syawal. Ini dianggap lebih utama oleh sebagian ulama agar tidak tertunda-tunda.
Terpisah: Dilakukan secara selang-seling atau acak selama masih di dalam bulan Syawal. Muhammadiyah memberikan kemudahan bagi umat yang mungkin masih disibukkan dengan agenda silaturahmi keluarga.
3. Mana yang Didahulukan: Utang Puasa (Qadha) atau Syawal?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan WargaMU. Melansir dari Muhammadiyah Semarang Kota, bagi mereka yang memiliki utang puasa Ramadan karena uzur (sakit, perjalanan, atau haid), sangat dianjurkan untuk mendahulukan Qadha (mengganti puasa wajib) terlebih dahulu sebelum menjalankan Puasa Syawal.
Hal ini dikarenakan perkara wajib harus lebih diprioritaskan daripada perkara sunnah. Namun, jika waktu Syawal hampir habis dan dikhawatirkan tidak sempat melakukan keduanya, maka diperbolehkan melakukan Puasa Syawal terlebih dahulu.
4. Tata Cara dan Niat
Tata cara Puasa Syawal sama seperti puasa pada umumnya, yaitu menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Perbedaan utamanya terletak pada niat. Karena ini puasa sunnah, niat boleh dilakukan di dalam hati sejak malam hari atau bahkan pada pagi hari selama belum makan, minum, atau melakukan hal yang membatalkan puasa.
Referensi:
Muhammadiyah.or.id:
Setelah Lebaran, Mari Kita Tunaikan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal Muhammadiyah Kota Semarang:
Waktu Puasa Syawal, Tata Cara dan Keutamaan