Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar yang mengusung narasi Islam Berkemajuan, Muhammadiyah sering kali dipandang dari sudut pandang yang kurang tepat. Muncul anggapan-anggapan yang melabeli gerakan ini sebagai kelompok yang "kaku" atau "eksklusif". Namun, jika kita menelaah lebih dalam sejarah dan langkah gerakannya, banyak dari anggapan tersebut hanyalah mitos belaka.
Mari kita bedah tiga mitos yang paling populer dan lihat fakta sebenarnya di baliknya.
1. Mitos: Muhammadiyah Anti terhadap Seni dan Budaya
Sering muncul persepsi bahwa karena Muhammadiyah fokus pada kemurnian aqidah, maka segala bentuk seni dan ekspresi budaya dilarang.
Faktanya: Muhammadiyah justru melihat seni sebagai instrumen dakwah dan pencerahan. Sejarah mencatat bahwa sang pendiri, K.H. Ahmad Dahlan, adalah seorang pemain biola yang mahir dan menggunakan musik sebagai media mengajar. Kini, semangat itu terus hidup melalui berbagai lembaga seni budaya di sekolah dan universitas Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak anti seni; yang dilakukan adalah memilah agar seni tetap membawa pesan moral dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
2. Mitos: Gerakan yang Eksklusif dan Hanya Melayani Kelompok Sendiri
Ada anggapan bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti rumah sakit atau sekolah hanya diperuntukkan bagi anggota internal saja.
Faktanya: Muhammadiyah memegang prinsip Kemanusiaan Universal. Rumah Sakit PKU Muhammadiyah terbuka bagi siapa saja tanpa memandang latar belakang agama maupun suku. Begitu pula di sektor pendidikan; di wilayah seperti Papua atau NTT, mayoritas siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah saudara-saudara kita yang non-muslim. Muhammadiyah hadir untuk memberi solusi bagi bangsa, bukan sekadar untuk golongannya sendiri.
3. Mitos: Terlalu Kaku dan Sulit Beradaptasi dengan Perubahan
Penampilan yang terorganisir dan disiplin sering kali membuat orang luar menganggap warga Muhammadiyah kurang santai atau terlalu serius.
Faktanya: Muhammadiyah justru merupakan pelopor modernisasi Islam di Indonesia. Muhammadiyah adalah organisasi yang sangat rasional dan progresif. Penggunaan metode hisab dalam penentuan waktu ibadah, misalnya, menunjukkan betapa organisasi ini sangat terbuka pada perkembangan ilmu pengetahuan. Warga Muhammadiyah didorong untuk menjadi pribadi yang kritis namun tetap adaptif, sehingga bisa tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman yang terus berubah.