Saat Kampus Bukan Lagi Ruang Aman, Islam Bicara Apa? Opini

Saat Kampus Bukan Lagi Ruang Aman, Islam Bicara Apa?

15 April 2026 Administrator 8 kali dibaca

Belakangan ini, lini masa kita diramaikan oleh berita pilu mengenai dugaan pelecehan seksual di salah satu fakultas hukum ternama di Indonesia. Miris rasanya, institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menegakkan keadilan justru menjadi lokasi terjadinya pelanggaran martabat manusia. Fenomena ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan integritas moral dan sistem perlindungan yang kuat.


Islam tidak pernah menoleransi tindakan pelecehan dalam bentuk apa pun. Dalam Islam, setiap individu memiliki "Karamah" atau kemuliaan yang diberikan langsung oleh Allah SWT. Pelecehan seksual adalah serangan langsung terhadap kemuliaan tersebut.

Allah SWT berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” > (QS. Al-Isra: 70)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk mulia. Tindakan melecehkan orang lain secara seksual bukan hanya kejahatan hukum, tapi juga bentuk penghinaan terhadap ciptaan Allah yang paling mulia. Selain itu, menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis tanpa alasan yang benar, adalah dosa besar yang dikecam dalam Al-Qur'an:

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)


Menanggapi krisis moral ini, Pimpinan Pusat Aisyiyah terus mendorong implementasi Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM). Mengapa keluarga? Karena keluarga adalah madrasah pertama. Di sinilah pendidikan tentang batasan, penghormatan terhadap lawan jenis, dan rasa malu (haya') harus ditanamkan sejak dini.

Pelecehan seksual sering kali berakar dari ketimpangan relasi kuasa dan hilangnya empati. Aisyiyah menekankan bahwa penguatan keluarga bukan hanya soal keharmonisan, tapi soal membangun karakter anak muda yang memiliki "rem" internal ketika berinteraksi di ruang publik.


Data dari BBC Indonesia sering menyoroti bagaimana korban pelecehan seksual di lingkungan akademik sering kali takut melapor karena adanya intimidasi atau relasi kuasa yang tidak seimbang. Anak muda terjebak dalam rasa malu dan stigma masyarakat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW memberikan prinsip dasar dalam berinteraksi:

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Prinsip "La Darara wa La Dirara" ini seharusnya menjadi dasar pembuatan aturan di kampus. Tidak boleh ada sistem yang membiarkan korban berada dalam bahaya, dan tidak boleh ada pembiaran terhadap pelaku yang merugikan orang lain.



Referensi:

  • Bagikan Artikel: