Assalamu’alaikum, WargaMU di Kota Malang! Tidak terasa, aroma bulan penuh berkah sudah mulai tercium. Seperti yang sering kita dengar dalam kajian-kajian keislaman, Rasulullah SAW selalu menyambut bulan ini dengan kabar gembira: "Atakum syahru ramadan syahrun mubarok" telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Namun, bagi WargaMU yang terbiasa berpikir sistematis, keberkahan ini bukan sekadar kata sifat, melainkan sebuah desain besar dari Allah agar kita mengalami lompatan kualitas diri yang luar biasa.
Ramadhan Sebagai "Karantina Kebaikan"
Melansir dari channel YouTube MAKOTAMU TV, ada satu analogi menarik yang menyebut Ramadhan sebagai "karantina kebaikan". Berbeda dengan ibadah lain yang melatih kita menjadi orang baik dalam durasi singkat, puasa adalah proses pelatihan intensif selama kurang lebih 14 jam setiap harinya, dan itu berlangsung selama satu bulan penuh. Selama belasan jam itu, kita tidak hanya menahan lapar, tapi juga "dipaksa" untuk mengontrol lisan dari ghibah, menjaga hati dari kemarahan, dan menjauhkan diri dari segala bentuk kezaliman. Sebagaimana dijelaskan dalam materi tersebut, desain waktu yang lama ini bertujuan untuk mengubah kebaikan yang awalnya terasa berat menjadi sebuah tradisi atau budaya yang membekas kuat dalam perilaku sehari-hari kita.
Rumus Linear: Iman, Puasa, dan Takwa
WargaMU tentu sangat akrab dengan QS. Al-Baqarah ayat 183. Namun, melalui penjelasan di kanal MAKOTAMU TV, ditegaskan adanya korelasi yang sangat logis dalam ayat tersebut: dimulai dengan Iman, di tengahnya ada proses Puasa, dan di ujungnya ada target Takwa. Ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Iman adalah bahan bakarnya, puasa adalah proses akselerasinya, dan takwa adalah output nyata dalam perilaku. Jadi, puasa yang benar bagi WargaMU seharusnya menghasilkan "produk" berupa pribadi yang memiliki tradisi kebaikan yang sudah membudaya. Jika setelah Ramadhan perilaku kita masih sama saja, maka kita perlu mengevaluasi kembali apakah proses "karantina" kita kemarin sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan Allah atau belum.
Pentingnya Memiliki "Agenda Kebaikan"
Sebagai gerakan yang terorganisir, Muhammadiyah selalu menekankan pentingnya perencanaan dalam setiap amal saleh. Sebagaimana diingatkan dalam video di MAKOTAMU TV, WargaMU didorong untuk menyusun sebuah "Agenda Kebaikan". Mulai dari menentukan target berapa juz Al-Qur'an yang ingin diselesaikan, berapa besar porsi infak yang akan dialokasikan melalui Lazismu, hingga konsistensi menjaga shalat malam 4-4-3 yang khusyuk. Tanpa agenda yang terukur, kita berisiko kehilangan kesempatan emas di bulan yang salah satu malamnya lebih baik dari seribu bulan ini. Mari kita tata hati, lisan, dan perilaku kita agar Ramadhan kali ini benar-benar mengantar kita menjadi manusia yang bertaqwa.
Artikel ini disarikan dengan melansir dari channel YouTube MAKOTAMU TV pada video berjudul "Rajuti - Ramadhan 1447 H (Marhaban Ya Ramadhan)".
Link: http://www.youtube.com/watch?v=8v-yNzMQZ_E