'Aisyiyah: Bukti Nyata Islam Memuliakan Perempuan
Di tengah perbincangan global mengenai kesetaraan gender, sering kali muncul stigma bahwa agama—khususnya Islam—menempatkan perempuan di posisi nomor dua. Namun, sejarah Indonesia punya jawaban telak atas stigma tersebut: 'Aisyiyah. Lahir pada tahun 1917, organisasi ini bukan sekadar "sayap pendamping" Muhammadiyah, melainkan bukti hidup bahwa Islam adalah agama yang membebaskan dan memuliakan perempuan sejak dalam pikiran hingga tindakan.
Mandiri Sejak Fajar Pergerakan
Jauh sebelum istilah women empowerment populer di era modern, Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) telah memulainya di gang-gang sempit Kauman, Yogyakarta. Di saat perempuan saat itu dibatasi hanya pada urusan domestik, 'Aisyiyah justru mendobrak pintu-pintu pendidikan. Mereka tidak menunggu instruksi; mereka bergerak mandiri membangun sekolah, panti asuhan, hingga balai kesehatan.
Kemandirian 'Aisyiyah tercermin dari kemampuannya mengelola Amal Usaha 'Aisyiyah (AUA) yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Ini adalah organisasi perempuan yang berdaya secara finansial, intelektual, dan sosial. Mereka membuktikan bahwa perempuan muslimah bisa menjadi pemimpin, pemikir, dan penggerak perubahan tanpa harus kehilangan jati diri religiusnya.
Melawan Kekerasan Seksual: Panggilan Teologi "Karamah"
Namun, di tengah kemajuan zaman, kita justru dihadapkan pada kenyataan pahit: maraknya kasus pelecehan dan kekerasan seksual, termasuk di lingkungan pendidikan seperti yang baru-baru ini terjadi di sebuah fakultas hukum ternama. Di sinilah relevansi gerakan 'Aisyiyah diuji.
Bagi 'Aisyiyah, kekerasan seksual bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan penghinaan terhadap Karamah Insaniyah (Kemuliaan Manusia). Islam sangat memuliakan perempuan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an:
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
(QS. Al-Ahzab: 58)
Kasus-kasus pelecehan seksual di kampus adalah alarm keras bagi krisis moral bangsa. 'Aisyiyah melalui Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) secara tegas memandang bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk menciptakan lingkungan yang aman, saling menghormati, dan jauh dari perilaku nirmoral.
Ruang Aman Adalah Hak, Bukan Privilese
Kekerasan seksual sering kali tumbuh subur dalam relasi kuasa yang timpang. 'Aisyiyah hadir untuk meruntuhkan ketimpangan itu dengan cara mencerdaskan perempuan. Dengan perempuan yang berilmu dan berdaya, mereka tidak akan mudah diintimidasi.
'Aisyiyah juga mendorong agar setiap institusi pendidikan—termasuk di bawah naungan Muhammadiyah—menjadi Garda Terdepan Ruang Aman. Tidak boleh ada toleransi bagi pelaku, dan tidak boleh ada ruang bagi victim blaming (menyalahkan korban). Melindungi korban adalah implementasi nyata dari ajaran agama yang paling murni.
'Aisyiyah adalah jawaban bahwa Islam dan kemajuan perempuan bisa berjalan beriringan. Dari sejarahnya, kita belajar tentang keberanian. Dari tantangan masa kini—seperti krisis kekerasan seksual—kita belajar tentang ketegasan moral.
Memuliakan perempuan bukan sekadar jargon di hari Kartini, tapi adalah tugas ideologis setiap muslim. Mari kita teruskan semangat Nyai Walidah: menjadikan perempuan sebagai pilar utama yang mencerahkan bangsa, sekaligus pelindung bagi sesama dari segala bentuk kezaliman.