Tangkal Doomscrolling & FOMO Dengan Detoks Digital

Tangkal Doomscrolling & FOMO Dengan Detoks Digital

16 Juni 2026
Administrator
Sosial 11 kali dibaca

*Menjawab ancaman kelelahan mental akibat penggunaan gawai yang tak terkendali, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara tegas membekali mahasiswanya dengan keterampilan digital mindfulness. Edukasi krusial ini disampaikan pada penutupan Kuliah Sabtu Subuh (KSS) Bagian Pendidikan dan Pengajaran Mata Kuliah Wajib pada Kurikulum (MKWK) UMM, Sabtu (13/6). Mengusung tema “Mindfulness di Era Digital”, kegiatan ini difokuskan untuk mentransformasi mahasiswa dari kondisi digital distress yang merusak menuju kesadaran penuh yang berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam.

Fenomena krisis fokus pada generasi muda menjadi perhatian utama dalam forum tersebut. Psikolog Pendidikan sekaligus Ketua Korps Immawati DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Wilda Kumala Sari, S.Psi., M.Psi., memaparkan bahwa mahasiswa saat ini sangat rentan mengalami digital distress akibat FOMO (fear of missing out), kecemasan akan validasi, hingga kebiasaan doomscrolling.

"Gejalanya bisa muncul dalam berbagai bentuk. Secara psikologis seseorang menjadi sulit berkonsentrasi, gelisah, cemas saat jauh dari ponsel, mudah marah, hingga akhirnya mengalami burnout akademik," jelasmya.

Lebih jauh, Wilda menyoroti bagaimana kecemasan digital sering kali merenggut kesadaran mahasiswa akan realitas saat ini, sehingga mereka kerap kehilangan kendali atas prioritas belajar dan produktivitas mereka.

“Sering kali kita terjebak pada masa lalu atau kecemasan tentang masa depan secara berlebihan. Karena itu, bersikap bijak terhadap masa lalu dan masa depan dimulai dengan kemampuan untuk hadir sepenuhnya di masa kini,” ungkapnya.

Mengatasi persoalan tersebut, integrasi antara psikologi dan agama menjadi solusi utama, yakni dengan menerapkan digital mindfulness melalui konsep khusyuk dan ihsan. Ia menerangkan bahwa khusyuk melatih mahasiswa untuk memusatkan pikiran agar terlepas dari distraksi gawai, sementara ihsan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah Swt. selalu mengawasi setiap aktivitas, termasuk di ruang siber.

“Ihsan membuat kita memiliki filter dalam berperilaku di media sosial. Dengan begitu, kita tidak akan melakukan cyberbullying, menyebarkan hoaks, atau melakukan plagiarisme digital,” tegasnya.

Untuk mengimplementasikan kesadaran tersebut, mahasiswa diarahkan untuk melakukan langkah praktis seperti mematikan notifikasi yang tidak penting, membiasakan monotasking daripada multitasking, serta menerapkan teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed) sebelum membuka media sosial.

"Pada jeda tersebut, mahasiswa dapat bertanya kepada diri sendiri, ‘Apakah Allah rida dengan apa yang aku lakukan? Apakah ini membawa manfaat?’ sebelum memutuskan untuk berinteraksi di dunia maya," tambahnya.

Melalui pembekalan mindfulness ini, mahasiswa UMM diharapkan mampu menjadi pengendali penuh atas teknologi yang mereka gunakan, bukan justru menjadi budak algoritma. Kegiatan ini menitipkan pesan mendalam bahwa menjaga kesehatan mental dan spiritual melalui batasan digital yang sehat adalah fondasi wajib bagi mahasiswa untuk meraih kesuksesan akademik dan kehidupan yang menenangkan di masa depan.(asa)

Bagikan: