Malang, kota yang seharusnya jadi saksi lahirnya mimpi-mimpi besar mahasiswa, belakangan ini justru sering diselimuti kabar duka yang menyesakkan dada. Fenomena bunuh diri di kalangan anak muda, terutama mahasiswa, seolah menjadi tren gelap yang sulit dibendung.
Kita semua sepakat: bunuh diri bukan solusi. Tapi pertanyaannya, kenapa di kota pendidikan sekeren Malang, hal ini bisa marak terjadi? Muhammadiyah ternyata punya sudut pandang yang melampaui sekadar "stigma" atau penghakiman.
1. Bukan Cuma Soal Angka, Ini Soal "Ruang yang Sesak"
Banyak yang mengira mahasiswa mengakhiri hidup hanya karena urusan skripsi atau asmara. Namun, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, memberikan perspektif yang berbeda. Beliau menyoroti bahwa Gen Y dan Gen Z di masa kini menghadapi tantangan kesehatan mental yang sangat kompleks.
Menurutnya, solusinya bukan cuma konseling medis, tapi membuka ruang aktualisasi diri. Anak muda Malang butuh tempat di mana mereka merasa didengar dan dihargai sebagai manusia seutuhnya, bukan sekadar "mesin" pengejar IPK. Muhammadiyah melihat bahwa ketika ruang ini tertutup, jiwa seseorang akan merasa terhimpit dan kehilangan arah.
2. Iman Sebagai "Safe Space", Bukan Penghakiman
Sering ada anggapan kalau orang yang depresi itu "kurang iman". Muhammadiyah meluruskan pandangan ini dengan lebih bijak. Keimanan bukan alat untuk menghakimi seseorang yang sedang rapuh, melainkan sebuah jangkar (anchor) di tengah badai kecemasan.
"Kembali pada iman adalah upaya untuk mengelola kecemasan. Iman memberikan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan setiap nyawa adalah amanah yang sangat berharga di mata Tuhan." — Intisari Suara Muhammadiyah.
Muhammadiyah memposisikan iman sebagai solusi preventif: sebuah pegangan batin yang membuat mahasiswa merasa bahwa sesulit apa pun hidup di Malang, mereka tidak pernah benar-benar sendirian. Ada Tuhan yang Maha Mendengar dan ada komunitas yang siap merangkul.
3. Langkah Nyata: Support System vs Stigma
Muhammadiyah lewat jaringan organisasinya di Malang (seperti kampus UMM dan komunitas IMM) bergerak sebagai support system. Mereka tidak hanya bicara soal "dosa besar" bunuh diri dalam Islam, tapi juga memberikan langkah konkret:
Penyediaan Layanan Konseling: Menggabungkan pendekatan psikologi profesional dengan bimbingan spiritual.
Edukasi Literasi Mental: Mengajarkan mahasiswa untuk mengenali red flags pada diri sendiri dan teman sebaya.
Membangun Komunitas Inklusif: Menciptakan lingkungan kampus yang tidak kompetitif secara toksik, melainkan kolaboratif.
10 Sikap Bijak dalam Merespons Berita Bunuh Diri
Muhammadiyah juga memberikan panduan bagi kita—para netizen dan mahasiswa—agar tidak memperkeruh suasana saat ada berita duka:
Stop sebarkan foto/video kejadian. Jaga perasaan keluarga.
Jangan bahas detail metodenya. Ini bisa memicu efek penularan (copycat).
Hargai privasi korban. Jangan jadikan bahan gosip atau konten.
Hentikan stigma "lemah iman". Fokuslah pada empati.
Ajak bicara jika melihat teman yang berubah drastis.
Bagikan info layanan bantuan (hotline) kesehatan mental.
Saring berita sebelum sharing.
Ingatkan bahwa bantuan profesional itu perlu.
Jadilah pendengar yang baik tanpa menghakimi.
Doakan yang terbaik bagi korban dan keluarga.
Fenomena di Malang adalah pengingat bahwa prestasi tanpa kesehatan mental adalah keropos. Muhammadiyah menawarkan jawaban yang jelas: perkuat iman sebagai fondasi, namun jangan lupa buka ruang bagi anak muda untuk berekspresi dan mencari bantuan.
Ingat, hidupmu lebih berharga dari masalah apa pun yang sedang kamu hadapi hari ini.
Referensi :
- Https://muhammadiyah.or.id/2021/02/bunuh-diri-dalam-islam/
- https://muhammadiyah.or.id/2024/05/soroti-masalah-kesehatan-mental-gen-y-dan-z-muti-sarankan-buka-ruang-aktualisasi-diri/
- https://linimasanews.id/2025/07/11/marak-bunuh-diri-lemahnya-iman-era-kini/
- https://muhammadiyah.or.id/2026/02/10-sikap-bijak-merespons-kabar-bunuh-diri/
- https://suaramuhammadiyah.id/read/bunuh-diri-kecemasan-dan-upaya-kembali-pada-iman