Bagi warga Muhammadiyah dan umat Muslim pada umumnya, hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam atau penghulunya hari. Kita sudah hafal di luar kepala tentang ritual standarnya: mandi besar, memakai wewangian, memotong kuku, hingga membaca Surah Al-Kahfi. Namun, ada satu dimensi sunnah yang sering kali tertutup oleh rutinitas ritual, yaitu Sunnah Akhlak. Hari Jumat seharusnya menjadi momentum untuk memulai kembali cara kita berinteraksi dengan sesama, menebar kebaikan yang tulus, dan tentu saja tanpa perlu validasi dari kamera ponsel.
Sedekah Wajah: Senyum yang Tulus
Rasulullah SAW bersabda, "Senyummu di hadapan saudaramu adalah sedekah." (HR. Tirmidzi). Di hari Jumat, masjid-masjid penuh sesak. Sering kali kita datang dengan wajah serius atau terburu-buru mengejar saf depan, sampai lupa menyapa atau sekadar melempar senyum kepada jamaah di sebelah kita. Padahal, menebar keramahan adalah sunnah yang paling murah tapi dampaknya luar biasa untuk mempererat ukhuwah Islamiyah. Jumat adalah hari untuk menjadi pribadi yang paling menyenangkan bagi orang lain.
Kebaikan Senyap (The Power of Secret Deeds)
Kita hidup di era di mana kebaikan yang tidak diposting dianggap tidak terjadi. Padahal, salah satu keutamaan di hari Jumat adalah memperbanyak sedekah. Namun, cobalah tantang dirimu untuk melakukan Sedekah Sirri atau sedekah rahasia. Misalnya dengan membayar tagihan kopi teman secara diam-diam, menyingkirkan duri di jalan menuju masjid, atau memasukkan uang ke kotak amal tanpa melihat kiri dan kanan. Kebaikan tanpa pamer ini adalah latihan terbaik untuk menjaga hati dari penyakit riya. Jumat adalah waktu yang tepat untuk bertransaksi langsung dengan Allah tanpa perlu perantara perhatian media sosial.
Menjaga Kenyamanan Orang Lain
Sunnah memakai wewangian dan berpakaian rapi bukan hanya soal penampilan diri, tapi soal menghargai ruang publik. Dalam Islam, mengganggu kenyamanan orang lain dengan bau badan atau pakaian yang kotor saat berkerumun di hari Jumat adalah hal yang sangat dihindari. Menebar wangi adalah bentuk kebaikan sosial. Kita ingin orang di sebelah kita merasa nyaman saat sujud, khusyuk saat mendengar khutbah, dan merasa dihargai kehadirannya. Ini adalah bentuk moderasi beragama: saleh secara ritual, sekaligus santun secara sosial.
Mengoptimalkan Golden Hour di Sore Hari
Kebanyakan orang menganggap urusan Jumat selesai setelah salat Jumat bubar. Padahal, ada satu waktu mustajab yang sering terlewatkan, yaitu antara waktu Asar hingga terbenamnya matahari. Gunakan waktu ini untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia. Doakan orang tua, doakan teman yang sedang kesulitan, atau doakan bangsa ini, tentu saja secara rahasia. Doa yang tulus tanpa diketahui orang yang didoakan adalah salah satu amalan yang sangat dicintai Allah.
Kesimpulan
Hari Jumat adalah madrasah mingguan kita untuk kembali menjadi manusia yang bermanfaat. Jangan sampai kita sibuk mengejar pahala Al-Kahfi, tapi lupa pada sunnah memperlakukan manusia dengan hati. Mari kita jadikan Jumat kali ini bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang kita baca, tapi seberapa banyak beban orang lain yang kita ringankan dan seberapa tulus senyum yang kita bagikan.