PDM Kota Malang : Dam Haji Bukan Sekadar Syariat

PDM Kota Malang : Dam Haji Bukan Sekadar Syariat

31 Mei 2026
Administrator
Dakwah 18 kali dibaca

Di saat jutaan umat Islam memadati Tanah Suci untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, denyut ibadah itu ternyata tidak berhenti di Makkah dan Mina. Ia mengalir jauh hingga ke kampung-kampung, panti asuhan, pesantren, dan rumah-rumah sederhana di Malang Raya. Dari sana, ibadah menemukan makna sosialnya yang paling nyata berbagi kehidupan kepada sesama.

Suasana di kompleks MIC MANIS (Muhammadiyah Islamic Center Manarul Islam) Kota Malang tampak berbeda pada Sabtu (30/5). Di kawasan salah satu Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang itu, belasan hewan DAM milik jamaah haji Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Rumah Sakit Islam (RSI) Aisyiyah disembelih secara tertib dan profesional.

Bagi sebagian orang, DAM mungkin hanya dipahami sebagai kewajiban syariat yang harus ditunaikan jamaah haji. Namun di tangan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Kota Malang, DAM menjelma menjadi jembatan kemanusiaan yang menghubungkan spiritualitas ibadah dengan kebutuhan sosial masyarakat.

Beberapa hal itu yang disampaikan oleh Wakil Ketua PDM Kota Malang, Dr. dr. H. A. Andyk Asmoro, Sp.An-TI., FIPM., saat ditemui disela-sela acara tersebut. Setiap hewan yang disembelih, kata dia, bukan sekadar pemenuhan ketentuan fikih, tetapi membawa pesan kepedulian, mengandung harapan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang selama ini jarang menikmati hidangan bergizi.

"Program ini dilaksanakan berdasarkan pandangan fikih Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah serta regulasi pemerintah yang memberikan ruang pemanfaatan nilai sosial ekonomi hewan dam di dalam negeri. Dengan demikian, manfaat ibadah para jamaah dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan," urai dr.Andik.

Pria yang juga ketua harian atau pelaksana tugas ketua PDM kota Malang itu menambahkan,  bahwa di tengah kehidupan yang semakin individualistis, Islam mengajarkan nilai ta'awun atau saling menolong sebagai fondasi utama kehidupan sosial.

Kesalehan seorang muslim, terang dia, tidak hanya diukur dari kekhusyukan ibadah ritualnya, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menghadirkan manfaat bagi orang lain. 

Karena itu, lanjut dr.Andik, setiap bentuk ibadah yang dapat melahirkan kemanfaatan sosial sesungguhnya merupakan perwujudan nyata dari ajaran Islam yang memadukan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas). 

"Semangat inilah yang menjadikan ibadah bukan sekadar urusan pribadi, melainkan juga sarana membangun keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama," bebernya. 

Lebih lanjut dia menyampaikan, Muhammadiyah Kota Malang melalui LAZISMU, yang diamanatkan untuk mengelola seluruh dana dam jamaah secara transparan dan akuntabel. Mulai dari pengadaan ternak yang memenuhi syarat syar'i dan kesehatan, proses penyembelihan yang higienis, hingga distribusi daging kepada para penerima manfaat dilakukan dengan standar profesional.

Daging hasil pemotongan, kata dia, kemudian disalurkan ke berbagai wilayah di Malang Raya. Sasarannya adalah keluarga prasejahtera, kawasan kantong kemiskinan, anak-anak yang berisiko stunting, panti asuhan, hingga para santri di pondok pesantren binaan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah.

Di balik setiap paket daging yang diterima warga, tersimpan kisah tentang solidaritas yang melampaui batas geografis. Jamaah haji yang sedang menunaikan ibadah di tanah suci Mekah/ Madinah dapat menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat di tanah kelahirannya.

Menariknya, para jamaah yang saat ini masih berada di Mekah juga memperoleh kepastian bahwa amanah mereka telah dilaksanakan. Melalui sistem pelaporan digital yang disiapkan LAZISMu, dokumentasi dan notifikasi penyembelihan dikirimkan secara real time sebagai bukti pelaksanaan dam sesuai ketentuan syariat.

Andik menegaskan, bahwa program ini merupakan wujud nyata hubungan harmonis antara kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Ibadah haji tidak hanya memiliki dimensi hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi juga menghadirkan dimensi kemanusiaan yang kuat. 

"Kami mengapresiasi kepercayaan jamaah haji KBIHU RSI Aisyiyah Kota Malang. Amanah ini kami kelola secara tepat sasaran, higienis, dan memberikan dampak sosial ekonomi yang nyata bagi masyarakat yang membutuhkan," tuturnya.

Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi masyarakat, program dam haji ini menghadirkan pesan bahwa ibadah sejatinya tidak berhenti pada ritual. Ia harus mampu menghadirkan kemaslahatan, mengurangi kesenjangan, dan menumbuhkan harapan bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Dari Tanah Suci, gema takbir dan doa para jamaah rupanya menemukan jalannya sendiri menuju Malang. Menjelma menjadi daging yang mengenyangkan, senyum yang merekah, dan harapan yang kembali tumbuh di hati banyak orang.

"Karena pada akhirnya, kemabruran haji bukan hanya tercermin dari jejak kaki yang sampai ke Ka'bah, melainkan juga dari manfaat yang sampai kepada sesama," pungkas dr.Andik.(asa)

Bagikan: